Telaah Al Quran: An-Naba 78 ayat 1 hingga 3

By faidhan
Facebook Twitter Email

An-Naba 78 ayat 1 hingga 3

Berita Besar

“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya ? Tentang berita yang besar. Yang mereka perselisihkan tentang ini.”

Kata pertama dari surah ini adalah ‘amma, karena itu juz ketiga puluh dikenal sebagai Juz ‘Amma. Ayat permulaan surah ini bertanya dengan gaya retorik : Tentang apakah mereka itu saling bertanya ? Pertanyaan retorik adalah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Kalimat ini digunakan untuk meminta perhatian ketika hendak menerangkan masalah penting. Maka, pertanyaan itu dijawab sendiri pada ayat kedua : Mereka saling berdebat tentang berita yang besar. Perkataan an-naba’ artinya ‘berita khusus’, berita yang penting dan menjadi perbincangan umum. Apa yang dimaksud dengan berita besar itu ? Ulama tafsir berbeda pendapat. Ada yang menyatakan kenabian Muhammad Saw., ada yang menyatakan hari kiamat, dan ada yang mengartikan wahyu sehingga naba’ atau wahyu disebut nabi. Mungkin sekali bahwa ketiga pengertian tersebut tercakup di dalam kata An-Naba’.

Ayat ketiga surah ini menyatakan bahwa berita besar itu telah diperselisihkan oleh manusia. Menurut riwayat yang dikemukakan antara lain oleh Ibn ‘Abbas, para tokoh Makkah ketika bertemu di pusat perkumpulan mereka, Dar Al-Nadwah, maupun tempat-tempat lain, sering memperbincangkan Muhammad dan keterangan-keterangan yang beliau sampaikan. Memang merupakan berita yang menggemparkan masyarakat Quraisy, ketika Muhammad saw. Menyatakan bahwa beliau telah menerima wahyu dari Allah Swt.dan dengan wahyu itu diangkat sebagai rasul. Mereka telah lama mengenal orang muda itu, bahkan bagi yang lebih tua telah mengenal beliau sejak masih bayi. Muhammad dikenal sebagai orang yang jujur, tidak ada yang meragukan ketulusannya sehingga beliau digelari sebutan terhormat : Al-amin, ‘orang yang terpercaya’. Karena sifat jujurnya itu, orang tidak akan ragu-ragu memercayakan barang perniagaan untuk diperdagangkan oleh Muhammad, atau membeli barang dari beliau. Muhammad juga diketahui masyarakat sebagai orang yang cerdas meskipun tuna-aksara. Para pemimpin suku besar pernah menyerahkan keputusan tentang sesuatu perkara yang mereka pertikaikan kepada Muhammad di saat beliau masih muda. Kalau saja pemuda itu tidak memberi keputusan adil yang diterima semua pihak, pasti telah terjadi perang suku yang sangat membahayakan keutuhan bangsa Quraisy. Pendek kata, kaum Quraisy menaruh hormat kepada Muhammad meskipun beliau hanya seorang anak yatim yang tidak dibekali kekayaan apa pun oleh almarhum ayahnya.

Orang-orang Quraisy itu menjadi kebingungan tatkala pada suatu ketika Muhammad Saw. menyatakan telah menerima wahyu dan diangkat menjadi nabi dan rasul Allah. Kemudian, beliau membacakan kitab Al-Quran, yang menyampaikan ajaran tauhid, dan sebagai konsekuensinya beliau menyuruh meninggalkan penyembahan berhala. Ajaran demikian itu membuat kaum Quraisy tercengang karena pemujaan terhadap berhala-berhala seperti Al-Lata dan Al-‘Uzza sudah menjadi tradisi yang dianut dan dilaksanakan selama puluhan tahun. Bagaimana mungkin mereka meninggalkan begitu saja agama ajaran kakek moyang yang mereka anggap orang-orang paling bijaksana ? Muhammad menerangkan bahwa setiap orang harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia. Untuk itu, manusia akan dihidupkan kembali setelah mati. Keterangan yang demikian itu mereka anggap ganjil dan tidak masuk akal. Bagaimana bisa orang yang sudah mati, yang tubuhnya sudah dikubur di dalam tanah, dagingnya telah hancur, dan tulang-tulangnya keropos, bisa dihidupkan lagi seperti sedia kala ? Orang-orang Quraisy memperbincangkan keterangan dan ajaran Nabi Muhammad Saw. di mana saja mereka bertemu. Ada di antara mereka yang mau percaya, tetapi kebanyakan menolak, bahkan mengejeknya. Ayat-ayat yang sedang kita kaji ini diturunkan Allah Swt. berkenaan dengan perbincangan kaum Quraisy itu. Allah menegaskan bahwa apa yang disampaikan Rasul-Nya Muhammad Saw. adalah kebenaran hakiki, kebenaran yang tidak perlu diragukan lagi.

Ada tiga hal yang menjadikan mereka menolak keras keterangan Nabi Muhammad Saw. Pertama, mereka sudah terlanjur merasa memiliki, punya sense of belonging yang sangat kuat terhadap kepercayaan kakek moyang. Agama baru yang diajarkan Rasul mereka anggap sebagai serangan terhadap milik mereka yang paling berharga. Karena itu, mereka berusaha mempertahankan keyakinannya dengan sekuat tenaga. Yang kedua, orang-orang Quraisy itu tersinggung berat karena yang mengajarkan agama bukan raja atau seorang yang kaya raya atau orang terpandang. Yang mengajarkan agama hanyalah seorang Muhammad yang ummi, buta huruf dan tidak memiliki wawasan yang luas. Mereka sendiri merasa jauh lebih berilmu dan jauh lebih terhormat dibandingkan Muhammad. Mestinya merekalah yang mengajar, bukan yang diajar atau yang di pimpin. Karena itu, mereka selalu menutup telinga atau bahkan mengolok-olok setiap kali Rasulullah menyampaikan keterangan agama. Yang ketiga, para pemimpin Quraisy itu khawatir kepemimpinannya akan disaingi dan digeser oleh Muhammad. Selama ini mereka telah menikmati kehormatan dan fasilitas masyarakat. Mana mungkin mereka menyerahkan kepemimpinannya dengan sukarela kepada orang lain ? Apalagi kepada “hanya” seorang Muhammad ?

Namun, meskipun amat sulit bagi mereka untuk menerima Islam, toh mereka tidak bisa mengabaikan dua faktor. Pertama, Muhammad adalah seorang yang sangat jujur sehingga sulit bagi mereka untuk menuduh beliau sebagai pendusta. Yang Kedua, Al-Quran adalah kitab yang memiliki susastra sangat indah dan isi yang komprehensif, mencakup berbagai masalah sekaligus. Para sastrawan Quraisy yang terkemuka pun tidak bisa menolak kenyataan tersebut. Maka, mereka mencoba menyelesaikan masalah dilematis itu dengan menyatakan bahwa Muhammad adalah seorang tukang sihir, dan Al-Quran disusun dengan kekuatan sihir. Mereka katakan, Al-Quran memang bagus karena Muhammad seorang ahli sihir yang piawai!

 

Telaah Al Quran 100.4 KLCBS, Sakib  Mahmud 

Mutiara Juz’Amma, Mizan

Facebook Twitter Email
Filed in: Telaah Al Quran by Sakib Mahmud • Tuesday, November 8th, 2011
 

Leave a Comment


+ one = 5