Telaah Al Quran: An-Naba 78 ayat 12 dan 13

By faidhan
Facebook Twitter Email

An-Naba 78 ayat 12 dan 13

“Dan Kami bangun di atas kamu tujuh buah langit yang kukuh. Dan Kami jadikan matahari sebagai pelita yang amat terang.”

Ayat 12 yang terpampang di atas, mengajak manusia untuk memerhatikan langit yang dicipta Allah Swt. di atas mereka. Pada ayat ini langit dinyatakan sebagai tujuh bangunan yang sangat kukuh. Dalam bahasa Arab, perkataan tujuh, seperti halnya tujuh puluh dan tujuh ratus, tidak selalu berarti bilangan bulat antara enam dan delapan. Tujuh menunjuk jumlah yang banyak. Ayat tadi menggunakan ungkapan “tujuh bangunan” karena langit dilihat dari bumi, seperti hamparan-hamparan yang berlapis-lapis. Pada setiap hamparan itu terletak awan, matahari, bulan, dan bintang-bintang. Maka, ungkapan tujuh lapis bangunan memberi kesan bahwa langit itu sangat besar dan sangat kukuh. Dalam pembicaraan sehari-hari, langit dinyatakan dengan perkataan “assamaau” yang secara harfiah berarti segala sesuatu yang di atas. Al-Quran sering kali menggunakan bentuk jamak langit yang banyak. Dengan demikian, perkataan langit mencakup awan, bulan, matahari, planet-planet, bintang-bintang ; pendeknya semua benda yang dilihat dari orang yang tinggal di bumi tampak berada di atas. Karena benda-benda itu banyak sekali, maka digunakan bentuk jamak.

Ayat 12 Surah An-Naba’ pada intinya mengingatkan manusia bahwa Allah telah menganugerahkan ruang angkasa dan segala benda yang berada di dalamnya sebagai karunia. Ilmu pengetahuan mengelaborasi keterangan ini lebih lanjut dengan menerangkan bahwa semua benda angkasa berinteraksi satu sama lain membentuk keseimbangan. Matahari dengan kekuatan tarikannya yang sangat kuat menjadikan bumi dan planet-planet berputar mengelilinginya, sedangkan bumi sendiri “memegang” bulan sehingga terus berkeliling tidak pernah berhenti. Pada masa dahulu orang mengira bahwa bumi merupakan pusat ruang angkasa. Kemudian, setelah dilakukan berbagai penelitian, orang menemukan bahwa matahari merupakan pusat segala sesuatu. Penelitian terus berlangsung sampai orang tahu bahwa matahari hanya merupakan salah satu bintang saja dari gugusan bintang yang relatif berdekatan, yang disebut Bima Sakti. Kemudian, ternyata bahwa Bima Sakti kita ini, yang mencakup matahari dan bumi, hanya salah satu dari galaksi-galaksi yang sangat banyak. Konon pada saat ini sudah diketahui lebih dari seratus juta galaksi. Dalam susunan Bima Sakti kita sendiri, terdapat kira-kira seratus miliar bintang, satu di antaranya adalah matahari.

Ayat berikutnya yakni ayat 13 menyatakan :

“Dan Kami jadikan pelita yang amat terang.”

Yang dimaksud ayat tadi sebagai pelita yang amat terang adalah matahari. Ilmu pengetahuan mengajari kita bahwa matahari merupakan sumber cahaya, berbeda dengan bulan yang hanya memantulkan sinar matahari. Cahaya matahari itu memancar ke bumi sehingga orang dapat melihat benda-benda yang terjangkau oleh lensa matanya. Manusia memerlukan cahaya untuk dapat melihat sesuatu dan Allah menyediakan cahaya itu. Bukankah hal ini suatu anugerah yang besar ? Sayang sekali, banyak orang yang melupakan kejadian sehari-hari yang amat penting itu. Banyak orang menganggap cahaya matahari sebagai sekedar suatu kenyataan yang sudah dari dahulu begitu dan sudah semestinya begitu. Maka, ayat ini menggugah perhatian manusia agar tafakur untuk memahami hakikat dari apa yang ditangkap oleh pancaindranya. Pemahaman yang mendalam tentang alam semesta menjadikan kita merasa diri kecil, tidak ada artinya dibandingkan jutaan miliar bintang-bintang di angkasa raya, dan lebih tidak berarti lagi dibandingkan pencipta segala sesuatu, Allah Swt. Dengan tafakur tentang alam semesta, orang akan mengagumi kehebatan Allah, sekaligus membuang jauh-jauh sikap sombong dan tinggi hati, ayat 12 dan 13 Surah An-Naba’ mengantar kita untuk sampai kepada kesimpulan tersebut.

Telaah Al Quran 100.4 KLCBS, Sakib  Mahmud 

Mutiara Juz’Amma, Mizan

Facebook Twitter Email
Filed in: Telaah Al Quran by Sakib Mahmud • Sunday, November 13th, 2011
 

Leave a Comment


5 + = ten