Telaah Al Quran: An-Naba 78 ayat 31 hingga 34

By faidhan
Facebook Twitter Email

Balasan bagi Orang yang Berbuat Baik

Sepuluh ayat yang telah kita bahas, yakni ayat 21 sampai dengan 30 Surah An-Naba’, menyampaikan gambaran yang serba-mengerikan tentang keadaan orang-orang kafir dan orang-orang yang fasik ketika mereka berada di alam akhirat. Bagaimana halnya dengan mereka yang beriman dan mengikuti agama dan disampaikan oleh Rasulullah Saw. ? Empat ayat selanjutnya yakni ayat 31 sampai dengan ayat 34 Surah An-Naba’ menyatakan sebagai berikut :

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan. Yaitu kebun-kebun dan buah anggur. Dan gadis-gadis remaja yang sebaya. Dan gelas-gelas yang penuh berisi.”

Kali ini kita catatkan empat ayat sekaligus dengan dua alasan. Pertama karena dalam penulisan beberapa mushaf, ada tanda bahwa seyogianya pembacaan keempat ayat itu tidak dipenggal-penggal, karena merupakan satu kesatuan. Yang Kedua karena empat ayat itu pendek-pendek sehingga untuk efisiensinya lebih baik dirangkai sekaligus.

Ayat 31 mengemukakan bahwa orang-orang yang takwa akan mendapatkan kemenangan, keberuntungan, kejayaan. Apabila hal itu belum didapatnya di dunia sekarang, di akhirat mereka pasti memperolehnya. Telah kita bicarakan bahwa di dunia ini orang memang tidak selalu mendapatkan keadilan yang semestinya. Di sini ada orang-orang yang serakah, yang berorientasi kepada kesenangan sendiri dan tidak peduli kepada kebutuhan orang lain. Mereka berusaha memperkaya diri atau berupaya memperoleh kedudukan serta kekuasaan dengan menekan dan merugikan orang lain. Kekuatan atau modal yang dimiliki, digunakannya untuk mengeksploitasi orang-orang yang lemah, yang kurang informasi dan kurang pengetahuan. Orang-orang yang dieksploitasi, meskipun bekerja keras, mereka tidak mendapatkan balasan upah yang memadai. Walaupun tidak melakukan kesalahan, mereka dijadikan kambing hitam untuk dipersalahkan dan dihukum atas dosa-dosa orang lain. Orang-orang demikian itu, yang dalam Al-Quran disebut al-mustadh’afin kadang-kadang sampai wafatnya tidak sempat memperoleh keadilan. Maka, kalau mereka sabar, dalam arti tidak menggerutu terhadap Allah dan tidak menyalahkan Allah, kelak di alam akhirat mereka akan mendapatkan balasan yang sangat baik, yaitu surga.

Ayat-ayat berikutnya memberikan gambaran yang jelas tentang kenikmatan ukhrawi tersebut. Gambaran disampaikan dalam bentuk perumpamaan atau metafora. Tujuan metafora pada rangkaian ayat ini adalah untuk memberikan impresi dan penghayatan bahwa kenikmatan akhirat itu jauh lebih besar dan lebih bermakna dibandingkan dengan apa pun juga yang terdapat di dunia. Dengan penghayatan seperti itu, orang akan menahan diri, tidak memanjakan nafsu dengan memenuhi keinginan-keinginan duniawi yang berlebihan. Dengan menahan diri yang diniatkan taat kepada Allah, di alam akhirat kelak dia pasti akan memperoleh segala yang didambakannya itu. Ayat 32 menyatakan bahwa surga yang menjadi tempat tinggalnya itu merupakan taman-taman asri dengan pepohonan yang rindang. Taman atau kebun dengan pepohonan yang sejuk adalah sebuah gambaran tentang keindahan dan ketenteraman. Apalagi bagi kaum yang mendengarkan ayat ini untuk pertama kalinya, yaitu kaum Quraisy yang hidup di padang-padang pasir kering kerontang. Di kawasan permukimannya hanya ada satu dua batang pohon kurma, tidak mampu menahan cahaya matahari yang menyengat terik. Maka, kebun yang rimbun dan asri sungguh merupakan idaman yang diimpikan.

Ayat 33 menggambarkan lebih lanjut bahwa penghuni janah itu dilayani oleh gadis-gadis remaja yang sebaya. Gadis-gadis itu memancarkan suasana yang muda dan serbaceria. Gambaran ini senada dengan ayat 36-37 Surah Al-Waqi’ah, yang menyatakan bahwa gadis-gadis surgawi adalah perawan suci yang penuh cinta kasih dan sebaya muda. Silakan pula membaca Surah Al-Shaffat ayat 48-49 yang intinya menyatakan bahwa para gadis itu melayani penghuni surga dengan pelayanan yang serbasantun dan ramah, gesit, dan tidak genit. Mereka itu bagaikan telur yang tersimpan rapi, elok dipandang, tetapi sedikit pun tidak mengundang nafsu untuk berbuat buruk. Ada pula gambaran penghuni surga dilayani oleh bujang-bujang muda yang tetap muda, tampan bagaikan mutiara bertaburan. Mereka mengenakan pakaian serta perhiasan serba-mewah dan indah. (Baca ayat 19-21 Surah 76 : Al-Insan).

Ayat 34 kemudian menggambarkan bahwa gadis-gadis tersebut mengedarkan minuman yang tersaji dalam gelas-gelas yang bagus dan indah. Paparan ini serupa dengan yang dikemukakan pada ayat 15-18 Surah Al-Insan bahwa gelas-gelas itu terbuat dari kristal murni atau dari perak yang sangat halus bagaikan kaca bening. Tempat minum yang amat bagus tersebut didesain begitu rupa sehingga sesuai dengan jenis minuman yang dituangkan ke dalamnya. Ayat 15 Surah Muhammad melukiskan lebih lanjut, minuman yang tersedia di dalam surga banyak jumlahnya dan bermacam-macam jenisnya. Secara metaforis digambarkan bahwa di sana ada sungai berisi air tawar yang bersih tidak berubah rasa, ada sungai susu yang tidak pernah basi, sungai madu yang bening, dan ada sungai anggur yang amat sedap rasanya. Di surga tidak ada minuman yang terlarang dan tidak ada orang yang menjadi mabuk karena anggur atau arak. Bergitulah kenikmatan luar biasa yang terdapat di dalam surga.

Facebook Twitter Email
Filed in: Telaah Al Quran by Sakib Mahmud • Friday, November 25th, 2011
 

Leave a Comment


× 5 = forty