Telaah Al Quran: An-Naba 78 ayat 36 hingga 37

By faidhan
Facebook Twitter Email

An-Naba 78 ayat 36 hingga 37: 

“Sebagai balasan dari Tuhanmu dan  pemberian yang cukup banyak. Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya ; yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia.”

Ayat 36 menyatakan bahwa segala kenikmatan yang telah kita diskusikan di atas merupakan balasan yang pantas bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. Balasan itu sungguh sangat besar dan sangat banyak, karena yang menganugerahkannya adalah Allah Swt. yang Maha Pemurah. Di antara sifat-sifat Allah yang termaktub dalam al-asma’al-husna, nama-nama Allah yang mulia yang 99 jumlahnya, yang paling ditonjolkan dalam Al-Quran adalah Al-Rahman dan Al-Rahim, Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang. Ada 57 kata Al-Rahman dan 114 kata Al-Rahim dalam Kitab suci. Jadi, meskipun Allah itu juga Syadidul-iqab, ‘penyiksa yang keras’, tetapi sifat utama-Nya adalah senantiasa mengasihi dan menyayangi makhluk-makhluk-Nya, khususnya manusia.

Ayat selanjutnya, yakni ayat 37 Surah An-Naba’, menerangkan sifat Allah ini dengan lebih jelas sebagai berikut :

“Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya : yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia.”

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah adalah yang Maha Memelihara seluruh ruang angkasa dan bumi. Dia yang mengatur letak-letak bintang, yang mengatur lintasan planet-planet mengelilingi matahari, yang memancarkan cahaya matahari, yang meniupkan angin, yang menumbuhkan pepohonan, yang memberi rezeki kepada setiap binatang di atas permukaan bumi dan yang menganugerahi segala kebutuhan hidup manusia. Sebagai Al-Rahman, Dia mengasihi semua manusia tanpa kecuali, yang beriman maupun yang kufur. Semuanya dianugerahi anggota tubuh yang sempurna berfungsi, lahan di bumi, oksigen dan air yang mencukupi, perlengkapan dan sarana kehidupan yang memadai. Kesenangan duniawi itu akan berakhir pada saat kiamat tiba. Ujung ayat tadi menyatakan bahwa pada hari kiamat itu orang tidak bisa berbicara kepada Allah. Maksudnya pada hari itu semua orang terkesima, heran, dan kebingungan sehingga tidak dapat membuka mulut untuk berbicara kepada Allah. Semua orang sibuk dengan permasalahannya.

Facebook Twitter Email
Filed in: Telaah Al Quran by Sakib Mahmud, Uncategorized • Tuesday, November 29th, 2011
 

Leave a Comment


8 × one =