Telaah Al Quran: An-Naba 78 ayat 8 hingga 9
An-Naba 78 ayat 8 dan 9
“Dan kami jadikan kamu berpasang-pasangan. Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.”
Ayat 8 mengemukakan kenyataan lain bahwa Allah menjadikan manusia berpasang-pasangan. Dengan berpasangan, manusia dapat mengembangkan keturunan. Proses pengembangan keturunan seperti itu sama dengan hewan dan sama pula dengan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang berkembang biak secara generatif. Keturunan terbentuk karena berlangsung pertemuan diikuti oleh persenyawaan antara dua unsur berbeda jenis yang berpasangan. Dalam hal tanam-tanaman, yang bertemu dan bersenyawa adalah serbuk sari dengan putik, dalam hal hewan dan manusia, yang bertemu adalah sperma dengan ovum. Bagi tumbuh-tumbuhan, pertemuan tersebut bersifat semata-mata jasmaniah. Bagi hewan, hal itu disertai dengan kenikmatan. Adapun bagi manusia, bukan hanya kenikmatan yang diperoleh, melainkan juga kasih sayang dan ketenteraman. Surah Al-Rum ayat 21 menyatakan bahwa perjodohan laki-laki dan wanita mewujudkan kehidupan sakinah, kehidupan yang tenang tenteram dan merupakan wahana untuk saling melimpahkan kasih dan sayang. Karena adanya fungsi yang khusus tersebut, maka Allah mengharuskan manusia meresmikan perjodohannya dengan akad nikah, suatu tata upacara yang khusus pula. Akad nikah itu ditandai dengan kalimat ijab dan kabul. Ijab diucapkan oleh wali mempelai wanita, sedangkan kabul dinyatakan oleh mempelai laki-laki. Ijab adalah pernyataan menikahkan, pernyataan mengalihkan tanggung jawab untuk menyantuni dan mendidik anak perempuan yang berada di bawah perwaliannya. Sedangkan kabul adalah pernyataan menerima baik penyerahan tugas dan tanggung jawab tersebut. Ijab dan kabul adalah transaksi yang dilakukan di hadapan dan atas nama Allah Swt., maka kelak pada hari kiamat akan dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt.
Ayat 9 kemudian mengingatkan manusia akan kenyataan yang dialami setiap orang dalam kehidupan sehari-hari, tetapi acap kali luput dari perhatian karena dianggap remeh dan sederhana. Kenyataan itu adalah bahwa Allah menganugerahkan kesempatan untuk tidur sebagai cara untuk beristirahat. Kita mengetahui bahwa orang perlu bekerja, mengupayakan banyak hal, baik untuk mencukupi berbagai kebutuhan lahiriahnya maupun untuk memenuhi kecenderungan batiniahnya. Orang bekerja dengan anggota tubuhnya dan bekerja keras pula dengan otaknya. Tentu saja kerja keras menyebabkan lelah sehingga orang perlu istirahat. Maka, sesuai dengan kebutuhan manusia tersebut, Allah menakdirkan orang bisa tidur dan hal itu jelas sekali merupakan karunia bagi manusia. Alangkah beratnya orang-orang yang tak bisa tidur, biasanya karena terlalu banyak pikiran sehingga menjadi stres. Apalagi kalau hal itu sudah berlebihan menjadi penyakit yang disebut insomnia, penyakit tidak bisa tidur. Orang yang tidak dapat tidur akan sangat mudah lelah, fisik maupun mental. Selanjutnya, orang yang lelah akan mudah terserang penyakit.
Untuk menegaskan betapa besarnya kenikmatan mengantuk dan tidur, Allah menceritakan peristiwa yang terjadi menjelang Pertempuran Badar. Pada waktu itu kaum Muslim telah beberapa hari menunggu tentara musuh yang belum juga datang. Mereka menjadi agak stres ; maklum Pertempuran Badar merupakan pertempuran besar pertama yang akan dilakukan oleh kaum Muslim. Dalam keadaan demikian, Allah Swt. mendatangkan rasa kantuk sedemikian sehingga mereka bisa tidur lelap dan pagi harinya telah segar kembali. Ayat 11 Surah Al-Anfal mengingatkan peristiwa itu dengan menyatakan : “ingatlah ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai penenteraman dari-Nya”. Menurut keterangan ‘Ali bin Abi Thalib sebagaimana ditulis dalam hadis riwayat Abu Ya’la dan Baihaqi, semua orang pada waktu itu tertidur lelap kecuali Rasulullah Saw. yang menunaikan shalat malam di bawah sebuah pohon. Beliau satu-satunya yang tidak stres sehingga tidak sangat memerlukan tidur. Rasa mengantuk yang diikuti dengan tidur lelap dialami lagi oleh kaum Muslim pada Pertempuran Uhud. Hal ini diterangkan pada Surah Ali ‘Imran ayat 154.
Begitulah ayat 9 Surah An-Naba’ mengingatkan manusia kepada kejadian sehari-hari yang sebenarnya merupakan karunia Allah, tetapi sering kali dilupakan begitu saja. Orang memang acap kali melupakan pemberian-pemberian Allah justru karena pemberian itu sangat banyak dan diterimanya setiap hari. Orang lupa betapa nikmatnya bisa melihat, betapa senang bisa mendengar, mempunyai anggota tubuh yang sempurna, memiliki orangtua, dan sebagainya. Ketika apa yang biasa dinikmati itu tidak ada lagi, barulah dia merasakan pentingnya atau berharganya sesuatu yang dipandang remeh tersebut. Orang merasakan pentingnya mata yang sehat ketika pandangannya mulai kabur. Orang merasakan berharganya kaki pada saat kaki menjadi lumpuh. Orang menyadari senangnya punya orangtua tatkala ayah ibunya sudah meninggal. Begitulah sikap manusia pada umumnya, yang tentu saja harus diubah dan diluruskan.
Telaah Al Quran 100.4 KLCBS, Sakib Mahmud
Mutiara Juz’Amma, Mizan






Leave a Comment