Pedahuluan Surat 79 : An-Nazi’at
Pendahuluan
Surah kedua dari Juz ketiga puluh adalah surah yang menempati urutan 79 dan dinamai An-Nazi’at. Perkataan tersebut terdapat pada ayat pertama. Disebut juga Al-Sahirah, mengambil kata yang terdapat pada ayat 14, dan Al-Thammah yang termaktub pada ayat 34. Surah yang terdiri atas 46 ayat pendek-pendek merupakan surah Makkiyyah, turun semasa Rasulullah Saw. masih bermukim di Makkah. Sebagian penafsir menyatakan bahwa An-Nazi’at diturunkan sesudah Surah An-Naba’. Dengan demikian, keduanya berurutan, baik kronologinya maupun penempatannya. Surah 79 ini diawali dengan lima ayat yang berturut-turut memuat sumpah-sumpah Allah. Sumpah merupakan penegasan bahwa apa yang akan disampaikan itu sungguh-sungguh benar dan benar-benar terjadi. Manusia biasa bersumpah untuk meyakinkan lawan bicaranya. Maka, Allah pun bersumpah untuk meyakinkan manusia. Bila seorang mukmin bersumpah, dia harus menggunakan asma Allah karena dengan bersumpah dia menyatakan bersedia menanggung azab Allah apabila ternyata sumpahnya tidak benar. Sedangkan bila Allah bersumpah, Dia dapat menggunakan asma-Nya sendiri dan dapat juga menggunakan nama salah satu atau beberapa makhluk-Nya. Allah adalah pemilik segala sesuatu maka Dia dapat menggunakan apa saja yang menjadi milik-Nya.
Tafsir Departemen Agama dan UII Yogyakarta membuat analisis bahwa sumpah Allah yang menggunakan nama makhluk mengandung dua hikmah. Yang pertama adalah : menolak pemujaan terhadap benda-benda tertentu oleh orang-orang musyrik yang menganggap benda-benda itu hebat dan sangat penting bagi mereka. Pada permulaan Surah Al-Syams, Allah menyatakan : “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan tatkala mengiringinya”. Allah memperlihatkan bahwa meskipun benda-benda itu memang berfungsi dengan sangat baik bagi manusia dan makhluk bumi lainnya, memberi kemudahan dan kesenangan kepada manusia, mereka hanyalah makhluk yang diatur dan dikuasai sepenuhnya oleh Allah Swt. hikmah yang kedua adalah mengajak manusia justru untuk memerhatikan benda-benda atau keadaan yang terjadi sehari-hari, berada di depan matanya, tetapi tidak memperoleh perhatian. Allah mengantar manusia untuk mengagumi keagungan-Nya dengan memerhatikan makhluk-makhluk-Nya. Dengan tujuan itulah, Allah bersumpah dengan menyebut pohon Tin dan Zaitun, dengan menyebut angin yang mengembus dan gunung yang menjulang dan berbagai benda serta peristiwa lainnya yang dicipta dan diatur-Nya dengan sempurna.






Leave a Comment